Close

A Copy Of My Mind: Intervensi Orang Kecil di Belantara Jakarta

Hati-hati! Post ini mengandung spoiler untuk film A Copy of my Mind dan L’Eclisse (1962). Spoiler akan mulai setelah gambar Chicco Jerikho muda di sinetron Cahaya Cinta.

.

.

chicco

((gemes banget))

Masih di sini? Artinya siap dispoilerin ya.

Waktu gue keluar dari bioskop habis nonton filmnya Joko Anwar yang kelima, gue berpikir, “Nggak kayak film Indonesia, ya. Nggak kayak film Amerika juga. Ataupun film Inggris.” Memang dibandingkan sama film-film Joko Anwar yang dulu-dulu (Janji Joni yang campy dan menyenangkan buat ditonton, Kala dan Pintu Terlarang dan Modus Anomali yang ibarat film-film mindfuck karya David Fincher dan Christopher Nolan dengan sedikit surealitas ala David Lynch), film ini sudah berada di jalan yang berbeda. A Copy of my Mind mengingatkan gue sama film-film drama nyata nan sarat filosofi seperti aliran French New Wave, film-film yang diproduksi sineas Prancis muda pada dekade 1960an. Dulu, sutradara-sutradara seperti Jean-Luc Godard, Francois Truffaut dan Agnès Varda membuat film-film mereka seperti film fiksi gaya dokumenter; sesuatu yang bisa mendokumentasikan keadaan kota Paris dan gaya hidup Parisian pada dekade 60an, namun juga bisa memanjakan penonton dengan jalan cerita yang meskipun tidak memiliki resolusi memuaskan namun sarat dengan makna filosofis dan benar-benar dekat dengan kehidupan nyata waktu itu. Sama halnya dengan A Copy of my Mind – film dimana Joko Anwar ingin membuat sebuah time capsule dari Jakarta pada tahun 2014.

Jakarta merupakan kota yang bisa dilihat dengan berbagai perspektif. 10 juta orang tinggal di Jakarta, dengan bertambahnya 2 juta jiwa pada siang hari dari orang-orang dari luar Jakarta yang bekerja di Jakarta. 10 juta orang tersebut terdiri dari macam-macam orang dari macam-macam status sosial, latar belakang, ras, agama, lapangan pekerjaan, dan lain-lain. Pengalaman seseorang di kota Jakarta bisa sangat berbeda, tergantung dari latar belakang mereka. Di sini, Jakarta dilihat dari mata seorang Sari (Tara Basro), seorang pekerja facial di salon kecantikan yang pindah ke Jakarta dua tahun yang lalu untuk mencari kehidupan baru. Dengan latar belakang kampanye pemilihan presiden, Sari ingin mencari kehidupan baru dengan melamar pekerjaan ke salon yang ditujukan kepada konsumen kelas menengah ke atas. Ia bertemu dengan Alek (Chicco Jerikho), seorang pengisi subtitle film bajakan, ketika Sari protes soal subtitle film bajakan yang ngaco. Cinta pun datang, tapi tak lama hingga semuanya hancur. Sari ditugaskan untuk melakukan facial pada Mirna (Maera Panigoro), seorang tahanan rutan eksklusif, dan mencuri salah satu DVD film miliknya. Apa yang dimulai dari keisengan belaka berakhir masam – DVD tersebut ternyata merupakan bukti bahwa salah satu capres telah melakukan korupsi, dan hal ini menyebabkan Alek diburu oleh seorang hitman (Ario Bayu).

Di film ini, Joko Anwar membuat sebuah Jakarta yang kita kenal dengan menggabungkan unsur realita dengan unsur seni. Naik motor di jalanan Jakarta di malam hari terkesan seperti sesuatu dari mimpi. Gue gak heran kenapa gue sering menemukan kata “surreal dreamscape” di review-review film ini. Jakarta di film ini digambarkan sebagai Jakarta yang sangat dekat ke hati kita, namun juga sangat menawan dan (anehnya) cantik di mata. Penggambaran Jakarta di A Copy of my Mind mengingatkan gue terhadap Fallen Angels (1995) dan Chungking Express (1994), dua film karya sutradara kawakan asal Hong Kong, Wong Kar-Wai. Di kedua film tersebut, ia menggambarkan Hong Kong sebagai kota yang sureal – seperti berasal dari mimpi – dengan efek motion blur dan laju yang lambat. Namun, Wong Kar-Wai tidak lupa memasukkan elemen-elemen yang Hong Kong banget, seperti pedagang daging babi utuh, pasar lokal yang ramai, jembatan bawah tanah yang super panjang, ibu-ibu bermain mahjong, sampai pedagang nasi babi kaki lima. Sama halnya dengan Joko Anwar, yang memasukkan elemen yang Jakarta banget, seperti mas-mas pengamen dangdut dengan boombox musik, meminum teh botol di pinggir jalan yang panas, Pasar Benhil yang ramai dan penuh dengan kehidupan, anak sekolah yang pulang sekolah di Metromini yang berdesakan, sampai masyarakat kelas menengah ke atas Jakarta yang suka berbicara dengan campuran bahasa Inggris dan Indonesia. Joko Anwar sukses membuat sebuah kapsul waktu dari Jakarta tahun 2014. Penonton yang berdomisili di Jakarta akan keluar dari bioskop, dan menyadari bahwa film yang mereka tonton adalah kehidupan mereka sekarang. Alasan utamanya – karena Jakarta-nya A Copy of My Mind nggak dibuat-buat. Ini Jakarta beneran, Jakarta sejujurnya, no filter Jakarta.

1227161_a-copy-of-my-mind

Sari (Tara Basro) dan Alek (Chicco Jerikho) di balik deretan DVD bajakan –
salah satu kekhasan Jakarta yang mampu ditunjukkan oleh film ini.

Akting para aktor dan aktris di film ini juga membedakan film ini dengan kebanyakan film Indonesia lainnya. Tara Basro dan Chicco Jerikho mempesona penonton dengan akting natural dalam sebuah industri film yang mengunggulkan melodrama dan reaksi yang serba lebay. Memang gue bukan aktor ataupun sutradara profesional, namun akting secara diam namun menjiwai karakternya secara penuh menurut gue lebih susah daripada akting menjadi orang yang gila ataupun melakukan hal-hal ekstrim. Ini alasan mengapa Daniel Day-Lewis menjadi satu-satunya pemenang 3 piala Oscar untuk Best Lead Actor; Day-Lewis merupakan raja dari subtle acting. Tak lupa juga akting dari aktor-aktor sampingan, yang meskipun hanya menjadi karakter latar belakang, namun tetap mempesona, khususnya Paul Agusta sebagai Bandi, manajer dari salon berklien menengah ke atas. Agusta mampu menjiwai tipikal masyarakat menengah ke atas Jakarta, tapi gue merinding waktu adegan Bandi memukuli Sari ketika mengetahui bahwa Sari mengambil DVD kepunyaan Mirna. Menyeramkan; Bandi nggak seperti apa yang gue sangka.

Akting hebat para aktor juga dibantu oleh kepiawaian Joko Anwar menulis karakter-karakter yang dekat dengan kita. Mungkin pernah tante Anda di-facial oleh orang seperti Sari; atau Anda membeli video bajakan yang teksnya se-ngaco buatan Alek. Anda mungkin sering nonton video bajakan di depan TV sambil memakan mie instan, atau terbangun dari tidur lelap oleh suara azan. Secara naratif, Sari merupakan salah satu tokoh wanita kompleks yang pernah ditampilkan dalam sinema Indonesia. Meskipun jalan ceritanya sebenarnya simpel, namun ditunjukkan antik-antik Sari, serta mimpi, harapan, dan seluruh kehidupannya secara gamblang. Sari tidak bisa dimasukkan dalam stereotip karakter wanita apapun. Dia bukan the virgin, dia bukan the mother, dia bukan the bitch, dia bukan the manic pixie dream girl. Hal itu disebabkan oleh karakter Sari yang benar-benar tiga dimensi, dengan kejadian yang datang kepadanya, bukan ia yang datang ke dalam kejadian. Bahkan gaya jalan Sari yang ngangkang dimasukkan ke dalam pengembangan karakter Sari. Selain Sari, karakter minor juga digambarkan secara banyak dimensi. Kita bisa melihat kekesalan Mirna terhadap tas-tas branded mahal yang, jika diperhatikan, tidak jauh beda dari tas lokal yang harganya jauh lebih murah. Kita bisa melihat Bude, karakter latar yang selalu ada, duduk kosong memandang layar televisi dan terus menunggu kehangatan cinta dari anak-anaknya. Bahkan sang hitman yang biasanya di film lain hanya berperawakan tangguh dan memukuli orang demi informasi, namun Joko Anwar sempat-sempatnya menuliskan mimpi-mimpi sang hitman dalam percakapan – menabung untuk membeli rumah dengan taman belakang untuk anaknya yang berumur 5 tahun.

Screen Shot 2016-02-14 at 5.45.27 PM

Tara Basro sebagai Sari hidup sebagaimana layaknya warga Jakarta, duduk di dalam Metromini
dalam perjalanannya menuju tempat kerja.

Film A Copy of My Mind tidak luput dari kritik sosial yang memenuhi setiap sudut film ini. Salah satu kritik favorit gue adalah reaksi Sari terhadap pencampuran bahasa Bandi. Sebagai orang Tangerang Selatan dari golongan menengah ke atas yang nggak terbiasa sama orang Jakarta menengah ke atas, gue suka bingung sama pencampuran bahasa Inggris-Indonesia dari orang-orang Jakarta (meskipun gue secara gak sadar sering melakukannya – dan, ya, gue sedang mencoba untuk memperbaikinya). Sari menggambarkan itu – kebingungan Sari dan pertanyaan Sari (“Pak, emang kalau kerja di sini harus bisa Bahasa Inggris ya?”) seperti mengingatkan kita bahwa mencampur bahasa adalah kebiasaan buruk yang bisa menurunkan kemampuan berbahasa dari kedua bahasa. (Karena, jika kita tidak mengetahui satu kata dalam Bahasa Indonesia, kita akan menutup lubang tersebut dengan Bahasa Inggris, dan sebaliknya.) Salah satu kritik lainnya adalah apatisme Sari dan Alek terhadap kampanye calon presiden yang sedang berlangsung. Jujur, kita semua malas dengan pemimpin yang bagaikan tong kosong nyaring bunyinya. Sama halnya dengan Sari dan Alek, dimana kampanye hanya menjadi suara latar dari kehidupan mereka. Film ini menggarisbawahi harapan dan cinta dua orang kalangan menengah ke bawah di Jakarta, dibandingkan dengan kampanye calon presiden yang menggelegar di mana-mana. Karena setiap orang memiliki prioritasnya masing-masing, dan Alek dan Sari memilih untuk semakin menjiwai hidup yang mereka jalani.

Karya Joko Anwar selalu kuat dalam sisi jalan ceritanya. Namun, untuk kali ini, ada satu kelemahan dari film ini, yaitu plotnya bergerak terlalu lambat. Seharusnya plot bisa dikembangkan lebih jauh jika ceritanya tidak terlalu lambat. Dengan mengambil laju yang sedikit lebih cepat, film ini bisa memberi potret kehidupan Jakarta serta menjadi film yang lebih bisa dinikmati khalayak yang lebih luas.

Plot dari film ini mengingatkan gue sama film-filmnya Michelangelo Antonioni, sutradara asal Italia yang membuat sebuah trilogi film yang berjudul Incommunicability Trilogy, berisi tiga cerita dari tiga pasangan yang kehilangan makna dari hubungan mereka karena kurangnya penyampaian keinginan terpendam mereka kepada pasangan mereka. Resolusi dari film ini secara khusus mengingatkan gue sama resolusi dari salah satu film dari Incommunicability Trilogy, yaitu L’Eclisse (1962), yang sudah pernah gue review dalam bahasa Inggris di blog ini. Dalam film tersebut, sepasang kekasih berjanji untuk bertemu di tempat yang sama pada keesokan harinya. Namun, tidak ada salah satu dari mereka yang datang ke tempat itu. Cinta yang sangat intens yang mereka rasakan, semuanya hilang dan balik ke status quo karena hilangnya komunikasi di antara mereka. Pada A Copy of my Mind, setelah Alek diculik oleh hitman, Sari tidak memilih untuk memperjuangkan Alek namun ia berbalik ke status quo – ia kembali bekerja di Salon Yelo, membuat mie instan di ruangan kosnya yang kecil, dan menonton film-film monster yang sangat ia sukai. Ia balik ke kehidupannya sebelum Alek. Namun, ada sesuatu yang hampa dari hidupnya. Meskipun ia mencoba keras untuk balik ke status quo dan melupakan Alek, ia tetap terbayang akan tangan Alek memeluk dirinya dan kehangatan yang menyelimutinya, nafasnya yang akan terus menghantuinya sepanjang hidupnya, dan tatapan matanya yang seakan mengatakan kepadanya, “aku disini.” Sisa-sisa dari kehidupannya bersama Alek tetap ada di depan matanya; DVD bajakan yang subtitlenya ngawur buatan Alek, warung pinggir jalan dimana Alek kerapkali menjemputnya, dan obligasi secara tidak langsung untuk membelikan makanan untuk Bude. Ia tahu bahwa ia tak akan bisa menghilangkan Alek dari pikirannya. Semua karena sebuah perilaku kecil yang ia lakukan demi kecintaannya terhadap film. Itulah dilema yang dihadapi Sari, orang kecil yang terjerat permainan orang-orang besar, dan realisasi tersebut membuat penonton-penonton film ini terpaku. Gue tahu, gue perlu lebih dari sekali nonton untuk benar-benar memahami film ini, dan mungkin gue bisa lebih mengerti tentang pola full circle dari film ini.

Kehidupan Sari dan kehidupan Alek adalah kehidupan kita semua; satu dari miliaran jiwa di belantara dunia yang mampu berintervensi dengan kuasa-kuasa besar di dunia ini.

★★★★

About the author patriciaksmngtys

Patricia K. is an Indonesian computer science student based in New York. When she's not busy manipulating data structures, you can find her watching movies or talking about them.

All posts by patriciaksmngtys →

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: