Close

Ada Apa Dengan Cinta? 2: Dambaan yang Terobati

Post ini mengandung spoiler untuk salah satu film Indonesia yang paling ditunggu-tunggu tahun ini, Ada Apa Dengan Cinta 2. Untuk review non-spoiler, klik di sini.

Spoiler akan mulai setelah gambar Dian Sastro jaman Gadis Sampul.

.

.

gadissampul1996

((ucul nget))

Masih di sini? Berarti, siap spoiler, ya.

Jujur, gue sangat menanti-nantikan AADC2. Lebih dari Civil War ataupun Suicide Squad. (Nggak, nggak lebih dari Rogue One). Iya, emang ga sabar banget nonton inkarnasi Spider-Man terbaru di bioskop, atau nonton Harley Quinn pertama versi layar perak. Tapi, gue lebih tertarik sama AADC2 karena sangat sedikitnya promo dan teaser yang mendahuluinya. Suicide Squad sudah merilis 2 trailer, 1 teaser, dan beberapa poster, padahal baru akan rilis Agustus nanti. AADC2? Hanya 1 teaser, 1 trailer, 1 teaser poster, dan 1 poster. Teaser poster dan posternya pun tidak menggambarkan apa-apa selain muka Nicholas Saputra dan Dian Sastrowardoyo, dan masih banyak pertanyaan yang tidak terjawab lewat trailer. Maka dari itu, muncul banyak spekulasi. Termasuk gue, yang hobi cenayangin film dan serial televisi populer, yang, alhamdullilah, sebagian besar benar. Buat AADC2, prediksi dan spekulasi gue bener-bener gila, sampai pikiran bahwa penulis akan “membunuh” Alya di AADC 2. Dan, sedihnya, gue bener.

Dari sedikitnya footage promosional dan minimnya informasi dari early reviews dari press screening dan gala premiere, gue nggak berharap macam-macam dengan AADC2. Gue cuma mau tahu bagaimana kehidupan Cinta, Rangga, dan geng Cinta sekarang, gitu aja. Dan karena pemikiran gue seperti itu, gue bener-bener nggak menyangka betapa bagusnya AADC2. Bahkan, sekarang preferensi gue lebih ke AADC2 daripada ke AADC yang pertama. Kenapa? Because this is my kind of film.

Sang-Surya-Dulu-Ada-Apa-Dengan-Cinta-2-Take-di-Jogja

Geng Cinta, 14 tahun kemudian.

Film ini mengikuti kisah Cinta (Dian Sastrowardoyo) yang berlibur dengan gengnya ke Jogja. Cinta sudah bertunangan dengan Trian (Ario Bayu) yang merupakan orang yang super milenial dan (tidak seperti Cinta) bosan dengan dunia seni. Milly (Sissy Priscilla) sedang hamil, menantikan anak pertama dengan suaminya, Mamet (Dennis Adhiswara); Maura (Titi Kamal) menikah dengan Christian Sugiono dan memiliki keluarga bahagia; dan Karmen (Adinia Wirasti) ditinggal suaminya dan baru keluar dari rehab karena terjerat narkoba. Sementara itu, Rangga (Nicholas Saputra) berada di Brooklyn dan mengurus toko kopi bersama teman bulenya yang mirip Jason Schwartzman, Rob (Chase Kuertz), dan karyawan mereka Donna (Lei-lei Bavoil). Rangga bertemu dengan adik tirinya (Dimi Cindyastira) yang mengajaknya untuk bertemu ibunya (Sarita Thaib) di Jogja. Rangga pergi, dan bertemu dengan Cinta.

Pertama, gue salut dengan kemampuan akting seluruh cast AADC2. Kali ini, seluruh cast sudah memiliki jam terbang yang lebih lama, jelaslah mereka sudah bisa mengelola emosi dan karakter dengan baik. Dian Sastro benar-benar memberikan sepenuhnya dengan peran ini, sehingga kita bisa merasakan apa yang Cinta rasakan. Adinia Wirasti cukup mengagetkan gue, karena meskipun ia berperan dalam peran pendukung, tapi ia bisa memerankan subtle acting dan memberikan watak Karmen yang terpengaruh oleh masa lalu kelamnya dengan baik. Namun, gue sangat kagum dengan Nicholas Saputra. Meskipun sudah bertahun-tahun, Rangga tetap mendambakan Cinta dan ia merasa terpaksa dan terberatkan ketika ia memutus hubungan dengan Cinta. Ia membawa kesedihan tersebut seperti memikul beban berat. Nicholas Saputra membawa kesedihan terselubung itu dengan baik – raut wajah yang seperti sedang memalsukan kesenangan, namun membawa kesedihan mendalam, a la Tony Leung di film In The Mood For Love. Di dalam industri film Indonesia yang mendewakan akting berlebihan yang serba fantasis namun kurang berkarakter, Nicholas Saputra mampu menjadi karakter Rangga sepenuhnya dan membawa kesedihan, kesenangan, dan kerinduan yang benar-benar Rangga banget.

Gue juga salut dengan Riri Riza yang mampu menjadi sutradara yang andal. Riza mampu mengeluarkan potensi terbaik aktor-aktor yang terlibat dalam film ini, dan juga menggunakan kamera tidak hanya sebagai alat rekam, namun sebagai pena yang berfungsi untuk menceritakan suatu cerita. Riza dengan sinematografer Yadi Sugandi memberikan fungsi di setiap shot, serta juga menjaga keindahan dan estetika film. Hal ini sangat terlihat dalam adegan “jahat” (itu loh, yang dijadikan ratusan meme dari trailernya). Riza dan Sugandi berganti-ganti skala shot mereka; dari over the shoulder shot, medium close up, close up, sampai big close up. Pergantian skala shot ini bukan tidak ada artinya. Semakin penting sebuah informasi tersampaikan di layar, semakin dekat skala perbesaran kamera. Hal ini membuat penonton semakin atentif dan “membangunkan” kembali penonton yang bosan. Ini menunjukkan betapa teliti Riza sebagai sutradara, yang memberikan makna kepada setiap adegan.

dian-sastro-jahat.jpg

Ja….hat.

Karakterisasi dari film ini juga jauh melampaui AADC1. Awalnya, karakter-karakter dalam Geng Cinta digambarkan menjadi orang-orang yang sangat stereotipikal. Cinta yang oh-so-popular, Karmen yang tomboy dan hanya digambarkan dengan ancaman-ancaman sangar dan hobinya bermain basket, Maura yang rapi dan cukup #basic, dan Milly yang telmi. Di AADC2, karakter mereka diperdalam. Bahkan Maura yang awalnya seperti karakter dua dimensi diberikan “kehidupan” lebih banyak di AADC2. Dan Milly bukan sekedar butt of the joke tapi merupakan pemberi clapback dan shade yang pintar dan efektif. Tapi, tenang saja, karakterisasi mereka tetap mengingatkan kita terhadap mereka pada masa SMA. Karakter-karakter mereka memang sudah dewasa, dan menghadapi masalah dewasa, tapi mereka masih mempunyai joie de vivre mereka sewaktu SMA.

Dan, gue juga suka banget sama title sequence-nya. Saul Bass banget, tapi juga tahun 2000an banget.

Film ini nggak sempurna. Plotnya kurang rapi, kalau menurut gue. Subplot pencarian ibu Rangga cuma dipakai sebagai plot device, dan tidak ada karakter yang dikembangkan dalam subplot ini, kecuali karakter Rangga sendiri. Meskipun adegan reuni Rangga dengan ibunya merupakan adegan yang sangat powerful, tapi karakter adik tiri Rangga hanya bersifat satu dimensi dan hanya bertujuan untuk mengantar Rangga pada Cinta.

Plot dari film ini mengingatkan gue akan banyak film. Yang paling terasa adalah Before Sunrise-nya Richard Linklater. Di film tersebut diceritakan tentang dua orang yang berkenalan dan memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama di Wina, dan berpisah, berpikir bahwa mereka tidak akan bertemu lagi selamanya. Adegan Cinta dan Rangga bertemu kembali di Jogja mengingatkan gue banget sama film ini, bahkan sering sekali disebutkan kata-kata “mungkin kita tidak akan bertemu lagi setelah ini,” dan yang serupa. Selain itu, film ini juga mempunyai beberapa kesamaan dengan film Wong Kar-wai, 2046. (Yak, mulai deh gue mirip-miripin satu film dengan film lain, for the sake of parallelism.) 2046 bercerita tentang seorang penulis Hong Kong yang berpacaran dengan beberapa wanita, hanya untuk menyadari bahwa ia tidak bisa melupakan, dan terus merindukan, cinta sejatinya. Hal ini mengingatkan gue banget sama Rangga, yang berubah dari super jutek menjadi super melankolis, dan pikirannya terasa terbebani terhadap pikiran tentang Cinta. Selain itu, kalau karakter-karakter Wong Kar-wai yang sedih dan stres sering digambarkan merokok, karakter-karakter AADC2 yang sedih dan stres sering digambarkan minum air mineral. Bahkan, di sini ada beberapa kemiripan dengan Filosofi Kopi-nya Angga Dwimas Sasongko, mulai dari tema berdamai dengan orangtua, sampai tren toko kopi indie. Ya, mungkin lagi ngetren aja toko kopi indie.

Namun, yang paling penting, ada banyak paralel dari AADC1 terhadap AADC2. Cinta kembali menggonta-ganti pilihan lipstick ketika ia hendak bertemu Rangga. Karmen kembali melontarkan kalimat-kalimat protektif-tapi-keras untuk Cinta. Kerangka ceritanya juga mirip – Cinta yang di dalam hatinya ingin bersama dengan Rangga, namun ia sudah ada yang punya, dan takut menggangu persahabatannya dengan gengnya. Bahkan banyak sekali kata maaf yang dilontarkan baik Cinta maupun Rangga, sama seperti film pertama.

Posternya pun juga paralel. Namun, mengapa kali ini Rangga yang menatap ke kamera? Konflik batin kali ini, meskipun dimiliki oleh kedua karakter utama, lebih terbebani ke Rangga. Rangga took Cinta for granted ketika ia memutus hubungannya dengan Cinta, dan di film ini, ia mencoba mendapatkannya kembali – menyadari bahwa ia salah. Kebalikan dengan film sebelumnya, dimana Cinta menyia-nyiakan Rangga dan mengejar Rangga di bandara ketika ia menyadari bahwa ia salah.

aadc2-v

Dambaan Rangga, yang akhirnya terobati.

Yang paling krusial adalah tema kedua film itu – bagaimana Cinta dan Rangga belajar tentang cinta. Beberapa poin plot film ini digerakkan oleh pilihan-pilihan bodoh yang dilakukan oleh Rangga dan Cinta, namun bisa saja pilihan-pilihan tersebut merupakan pembelajaran tersendiri bagi Cinta dan Rangga akan makna cinta tersebut. Mengutip narasi kelulusan yang dibuat temen gue di buku tahunan SMA: “Mungkin di titik ini gue dengan mudah bisa jelasin Hukum Gravitasi, menghitung nilai elastisitas, sampe fasih berbahasa Jerman. Tapi setinggi-tingginya ilmu gue, cinta tetep aja abstrak.” Ya, cinta merupakan konsep yang susah dimengerti manusia, dan di rangkaian film AADC, Rangga dan Cinta belajar apa artinya mencintai. Di film pertama, mereka merasakan indahnya cinta melalui suka-sukaan masa SMA dan persahabatan dengan teman-teman geng – terasa sebagai bumbu di tengah-tengah proses pembelajaran mereka, dan mereka menyikapinya dengan serba dramatis. Cinta yang menangis dekat teman-temannya karena ia menyukai Rangga, dan Rangga yang menutup diri terhadap Cinta karena ia malu terhadap cinta monyet ini. Di film kedua, cinta masih sesuatu yang abstrak. Rangga merasa sakitnya kerinduan dan keinginan untuk pulang karena cinta (dan Cinta!), dan Cinta pun merasakan konflik batin dan dambaan untuk resolusi yang baik tentang hubungannya dengan Rangga. Dengan melihat kedua film dalam rangkaian film AADC, kita pun belajar bahwa cinta itu universal – kita merasakan cinta dalam segala aspek kehidupan kita, tapi cinta yang kita rasakan akan berbeda ketika kita beranjak dewasa. Dan, waktunya Cinta dan Rangga beranjak dewasa.

Pertanyaannya; kenapa gue lebih suka AADC2 ketimbang AADC1? Mungkin, gara-gara subject matternya. Gue suka banget film-film yang membahas soal kerinduan, kesedihan mendalam, konflik batin, dan cinta dalam konteks dewasa. (Bukan lust, loh. Love.) In conclusion, AADC2 adalah AADC1 yang semakin matang dan dewasa, namun masih menyimpan keceriaan dan nostalgia masa SMA.

★★★★½

About the author patriciaksmngtys

Patricia K. is an Indonesian computer science and English student based in Seattle, Washington. When she's not busy coding in Python or understanding Edward Albee's plays, you can find her watching movies or talking about them.

All posts by patriciaksmngtys →

One Comment

  1. Aku terhura dan terenyuh membaca review ini. Udah filmnya emang nusuk karena ~relatable~, baca review ini jadi inget lagi kenapa filmnya relatable dan bikin makin baper. Huhuhu. Calon sutradara mah beda emang huhuhu.

    Anyway, I nominated you for the Sunshine Blogger Awards: http://itcaughtmyeyes.com/?p=1975

    Would be fun if you partake in this, darling 😉 (soalnya q penasaran sama jawaban qm atas pertanyaan-pertanyaanq)

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: